Netanyahu Tanggapi Respons Hamas soal Gencatan Senjata Gaza
Israel pelajari respons Hamas terkait gencatan senjata di Gaza. Tiga tuntutan utama Hamas, nasib sandera, dan tekanan politik di Tel Aviv jadi sorotan utama perundingan.
LINTASTIMURMEDIA.COM - GAZA, PALESTINA - Pemerintah Israel dilaporkan tengah mempelajari respons terbaru dari Hamas terkait proposal gencatan senjata di Jalur Gaza. Informasi ini pertama kali diberitakan oleh media Israel, yang mengungkap bahwa Tel Aviv kini menelaah secara rinci setiap poin dari tanggapan Hamas sebelum melangkah ke tahap perundingan lanjutan.
Mengutip laporan dari Channel 12 Israel, seorang sumber menyatakan bahwa delegasi Israel kemungkinan besar akan segera terbang ke Doha, Qatar, guna memulai negosiasi tidak langsung dengan pihak Hamas. Agenda ini difokuskan pada pembahasan teknis dan politis terkait implementasi gencatan senjata Gaza, dengan estimasi waktu perundingan tidak lebih dari satu setengah hari.
Hamas Siap Negosiasi, Tegaskan Respons Positif
Sebelumnya, Hamas secara resmi menyerahkan dokumen berisi respons yang mereka sebut sebagai “positif” kepada para mediator internasional. Kelompok perlawanan Palestina itu menegaskan kesiapan penuh untuk membuka tahap negosiasi lebih lanjut mengenai mekanisme pelaksanaan gencatan senjata serta detail teknis lainnya.
Namun di sisi lain, laporan dari lembaga penyiaran publik Israel menyebut bahwa Hamas tetap bersikukuh pada tiga tuntutan utama yang dianggap krusial dalam proposal gencatan senjata Gaza ini:
-
Pemulihan sistem distribusi bantuan kemanusiaan ke Gaza seperti sebelumnya, di mana Hamas memiliki kontrol terbatas atas masuknya bantuan.
-
Perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari tanpa syarat akhir, berseberangan dengan keinginan Israel yang bersikeras untuk melanjutkan operasi militer jika kesepakatan jangka panjang belum tercapai.
-
Penarikan total pasukan militer Israel dari wilayah Gaza, termasuk dari zona strategis yang kini masih berada di bawah kendali militer Israel.
Dalam laporan Israel Hayom, disebutkan bahwa isu paling kompleks dalam negosiasi mendatang adalah peta penarikan pasukan Israel. Hamas menuntut penarikan menyeluruh, sementara Israel bersikukuh mempertahankan kendali atas poros strategis Morag dan wilayah selatan Jalur Gaza.
Dukungan Jihad Islam dan Ketegangan Politik Internal Israel
Gerakan Jihad Islam Palestina menyatakan dukungan atas langkah Hamas memasuki tahap negosiasi. Namun, mereka menekankan pentingnya jaminan internasional agar gencatan senjata tidak bersifat sementara. Beberapa catatan teknis juga telah disampaikan kepada Hamas untuk memperkuat posisi tawar dalam proses diplomasi mendatang.
Sementara itu, kabinet keamanan Israel dilaporkan sedang menggelar pertemuan intensif terkait nasib para sandera dan situasi terkini di Gaza. Media Israel menyebut bahwa diskusi berlangsung memanas, termasuk terjadi pertengkaran antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Kepala Staf Militer Eyal Zamir.
Menurut laporan Channel 13, Zamir menyatakan bahwa militer Israel tidak mungkin mampu mengendalikan dua juta penduduk Gaza, yang langsung memicu amarah Netanyahu. Sang Perdana Menteri menilai bahwa blokade total terhadap Gaza sudah efektif dan menegaskan bahwa pendudukan penuh akan mengancam keselamatan pasukan maupun para sandera Israel.
Pengumuman Kesepakatan Netanyahu–Trump di Washington?
Dalam perkembangan terbaru, harian Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa kesepakatan gencatan senjata kemungkinan besar akan diumumkan secara resmi oleh Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan mereka di Washington pada pekan depan.
Menurut laporan tersebut, baik Kepala Staf Militer maupun Direktur Shin Bet David Zini menyetujui skema “kesepakatan parsial” sebagai alternatif terbaik demi menjembatani kepentingan kedua pihak.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, juga menyatakan bahwa pembebasan sandera merupakan prioritas utama pemerintahan Trump. Ia berharap kesepakatan damai dapat segera terwujud dalam waktu dekat.
Forum keluarga sandera Israel di Gaza telah mendesak Presiden Trump untuk terus menekan semua pihak agar membebaskan sandera secara menyeluruh dan menghentikan perang secepat mungkin. Mereka juga menyampaikan pesan tegas kepada Netanyahu: “Jika Anda sungguh-sungguh peduli, Anda punya kekuatan untuk bertindak.”
Sementara itu, Hamas menyatakan siap membebaskan seluruh sandera Israel dalam satu pertukaran bersyarat, yakni penghentian total agresi militer dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza. Namun, media menyebut bahwa Netanyahu justru kembali mengajukan syarat tambahan yang dianggap menghambat tercapainya perdamaian abadi.
Serangan Israel Lanjut, Krisis Kemanusiaan Gaza Memburuk
Sejak 7 Oktober 2023, militer Israel melancarkan serangan berskala besar ke Jalur Gaza yang oleh berbagai lembaga HAM dan organisasi internasional dikategorikan sebagai potensi genosida. Hingga kini, lebih dari 192.000 warga Palestina menjadi korban tewas atau luka-luka. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, sementara lebih dari 10.000 orang dilaporkan hilang, dan ratusan ribu lainnya harus mengungsi tanpa tempat tinggal layak.
Meski Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan perintah agar Israel menghentikan operasi militer, namun serangan terus berlangsung. Blokade total atas Gaza juga tetap diberlakukan, memperparah krisis kemanusiaan di Gaza yang kini mencapai titik kritis.





















