Perlawanan Gaza Guncang Israel: Serangan Terkoordinasi Tewaskan Puluhan Tentara
Perlawanan Palestina di Gaza kembali guncang pasukan Israel dengan serangan terkoordinasi di Shujaiya dan Khan Younis. Puluhan tentara tewas, termasuk dari unit elit Egoz, menandai kekuatan militer perlawanan yang tetap solid di tengah agresi brutal Israel.
LINTASTIMURMEDIA.COM – GAZA, TIMUR TENGAH – Perlawanan bersenjata Palestina di Jalur Gaza menunjukkan bahwa kekuatan militer kelompok perlawanan masih tetap solid, adaptif, dan memiliki kemampuan ofensif yang tinggi, meskipun dihadapkan pada operasi militer brutal dan menyeluruh dari tentara pendudukan Israel.
Analis militer dan strategi asal Lebanon, Brigadir Jenderal Hassan Jouni, menilai bahwa rangkaian operasi terbaru di wilayah utara Gaza menandai dua hal yang sangat signifikan: pertama, kehadiran nyata pasukan perlawanan di medan tempur, dan kedua, kemampuan mereka melakukan manuver militer serta serangan terkoordinasi tingkat tinggi yang melumpuhkan logistik dan moral pasukan Israel.
Dalam program Analisis Militer yang disiarkan oleh media Timur Tengah, Jouni menyoroti rentetan serangan simultan dan penyergapan kompleks di kawasan Shujaiya dan Khan Younis, yang menurutnya menjadi indikator kuat bahwa para pejuang Palestina masih memiliki kapasitas operasional dan ruang gerak di berbagai sektor strategis Jalur Gaza — dari utara hingga selatan.
Pada Rabu (3/7), sejumlah media Israel melaporkan adanya “insiden keamanan serius” yang mengakibatkan tentara Israel tewas dan terluka. Sayap militer Jihad Islam Palestina, Saraya Al-Quds, mengklaim telah melakukan serangan terencana terhadap puluhan personel militer Israel di lingkungan Shujaiya, sebelah timur Kota Gaza.
Dalam laporan terpisah, seorang anggota unit elit Israel, Egoz, dikonfirmasi tewas akibat tembakan penembak jitu — memperkuat kesan bahwa pasukan perlawanan berhasil melakukan operasi dengan presisi tinggi.
Serangkaian insiden ini menjadi pukulan telak bagi militer Israel, yang tengah menjalankan operasi darat intensif namun menghadapi perlawanan sengit di berbagai front. Menurut Brigjen Jouni, tujuan utama dari operasi kelompok perlawanan bukan hanya menghadang pasukan musuh, melainkan menggagalkan konsolidasi kontrol wilayah yang ingin dicapai oleh Israel.
"Mereka mungkin mengklaim telah menguasai 75 persen wilayah Gaza secara fisik, tapi itu tidak berarti mereka mampu mengendalikan atau menetap secara strategis dan berkelanjutan," tegas Jouni.
Ia menekankan bahwa terdapat perbedaan mendalam antara menguasai wilayah secara geografis dan mengendalikan wilayah secara militer dan sosial. Dalam konteks Gaza, setiap klaim Israel harus diuji melalui stabilitas operasional di lapangan, yang hingga kini terus diganggu oleh aksi-aksi perlawanan terorganisir.
Jouni juga menyoroti pentingnya keragaman strategi dan taktik perlawanan, mulai dari serangan roket, penembakan jarak jauh, penyergapan lapangan, penanaman ranjau darat, hingga operasi rudal yang diarahkan ke titik-titik vital militer Israel. Taktik ini tidak hanya menyasar fisik pasukan musuh, tetapi juga bertujuan menghancurkan psikologi tempur mereka.
Serangan Terstruktur dan Penyergapan Kompleks
Sumber lokal Palestina melaporkan bahwa sejumlah tentara Israel dievakuasi dari kawasan timur Gaza setelah mengalami serangan mendadak. Dalam pernyataannya, Saraya Al-Quds menguraikan bahwa operasi dimulai dengan meledakkan ladang ranjau, memaksa pasukan Israel untuk berlindung ke rumah-rumah di sekitar lokasi.
Sesaat kemudian, para pejuang melancarkan serangan bertubi-tubi menggunakan roket berpemandu dan peluru jenis TBG ke arah rumah yang sudah dikepung. Setelah itu, mereka melakukan penyerbuan jarak dekat dengan senjata ringan dan senapan otomatis, menyebabkan kerugian besar di pihak Israel.
Kelompok ini mengklaim berhasil menewaskan dan melukai puluhan tentara serta merusak iring-iringan kendaraan lapis baja. Beberapa tank dan kendaraan tempur Israel dikabarkan hancur dalam penyergapan tersebut.
Jouni mencermati bahwa pasukan Israel kerap mencari perlindungan di dalam bangunan sipil ketika kendaraan mereka terkena ranjau atau serangan. Menurutnya, hal ini mengindikasikan rendahnya semangat tempur dan ketidakmampuan menghadapi perlawanan frontal.
“Alih-alih merespons sumber tembakan, mereka justru memilih berlindung — dan akhirnya terperangkap. Ini menunjukkan bahwa taktik gerilya kelompok perlawanan berhasil menekan ritme dan strategi tempur Israel,” ungkap Jouni.
Ia menegaskan bahwa penyergapan kompleks semacam ini membutuhkan penguasaan medan yang luar biasa, pemahaman rinci terhadap pola pergerakan musuh, serta kemampuan mengatur serangan multi-lapis dalam waktu singkat.
Selama pasukan Israel masih menetap di dalam Gaza tanpa solusi politik yang jelas, maka tekanan psikologis dan kelelahan operasional akan terus menumpuk di tubuh militer Israel.
Bulan Berdarah bagi Tentara Israel
Surat kabar Yedioth Ahronoth mengonfirmasi bahwa Juni 2024 menjadi bulan dengan korban militer tertinggi bagi Israel sejak awal tahun. Sebanyak 20 tentara, termasuk perwira, dilaporkan tewas hanya dalam waktu satu bulan akibat perlawanan bersenjata yang makin intensif.
Sejak dimulainya operasi militer pada 7 Oktober 2023, total korban tewas dari pihak Israel mencapai 880 personel, dengan 438 di antaranya gugur sejak invasi darat dimulai. Sementara itu, 30 tentara lainnya tewas dalam serangkaian serangan sejak Israel melanjutkan agresi pada 19 Maret 2024.
Angka ini menunjukkan bahwa perlawanan rakyat Palestina tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi gerakan militer yang efektif dan terorganisir, meskipun dikepung dan diserang habis-habisan oleh salah satu kekuatan militer paling canggih di dunia.






















