WHO Kirim Bantuan Medis Pertama ke Gaza Sejak Maret
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berhasil mengirim sembilan truk bantuan medis ke Gaza lewat perbatasan Kerem Shalom. Bantuan ini termasuk 2.000 kantong darah dan 1.500 kantong plasma di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk.
LINTASTIMURMEDIA.COM – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis, 26 Juni 2025, secara resmi mengumumkan keberhasilan pengiriman bantuan medis pertama ke Jalur Gaza sejak 2 Maret 2025. Pengiriman ini menjadi tonggak penting dalam upaya penyelamatan krisis kesehatan di wilayah yang porak-poranda akibat konflik berkepanjangan.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan lewat platform X (sebelumnya Twitter), Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa lembaganya berhasil mengangkut sembilan truk yang memuat pasokan medis esensial ke Gaza. Di antara bantuan yang dikirim termasuk 2.000 kantong darah dan 1.500 kantong plasma, yang sangat dibutuhkan oleh fasilitas medis yang kini dalam kondisi kritis.
Truk-truk bantuan tersebut berhasil masuk melalui perbatasan Kerem Shalom, salah satu titik akses paling sensitif dan berisiko tinggi. Keberhasilan ini menjadi sorotan, mengingat banyaknya laporan sebelumnya mengenai penjarahan bantuan kemanusiaan dan gangguan distribusi yang menghambat misi kemanusiaan internasional.
Pasokan darah dan plasma kini telah disimpan dengan aman di fasilitas pendingin Nasser Medical Complex, dan direncanakan segera didistribusikan ke rumah-rumah sakit yang tengah mengalami kelangkaan pasokan medis parah. Kelangkaan ini terjadi di tengah melonjaknya jumlah korban luka, termasuk akibat kekerasan yang terjadi di titik-titik distribusi makanan, yang selama ini menjadi salah satu titik api dalam krisis Gaza.
Dr. Tedros menambahkan bahwa pengiriman bantuan ini akan dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang. Saat ini, empat truk WHO masih berada di area Kerem Shalom, sementara sejumlah truk lainnya dalam perjalanan menembus wilayah Gaza yang telah lama terisolasi dari jalur logistik internasional akibat blokade dan pembatasan ketat.
Pengiriman ini disebut sebagai “keberhasilan langka” oleh berbagai pengamat kemanusiaan dunia, karena dilakukan di tengah kondisi yang sangat kompleks—baik secara politik, keamanan, maupun logistik. WHO menilai bahwa keberhasilan pengiriman ini adalah bukti bahwa akses kemanusiaan bisa dicapai jika ada kemauan politik dan jaminan perlindungan terhadap pekerja bantuan.
“Namun, bantuan medis ini baru setetes air di lautan. Kita membutuhkan pengiriman dalam skala jauh lebih besar dan lebih cepat untuk menyelamatkan ribuan nyawa,” tegas Dr. Tedros dalam pernyataan resminya.
WHO juga kembali menyerukan kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik agar membuka akses kemanusiaan seluas-luasnya. Tedros menekankan bahwa distribusi bantuan medis harus dilakukan secara berkelanjutan, aman, dan tanpa hambatan di seluruh wilayah Gaza, melalui semua jalur yang memungkinkan, demi menjamin hak dasar atas kesehatan bagi seluruh warga sipil yang terdampak.
Situasi kemanusiaan di Gaza kian memburuk dalam beberapa bulan terakhir, dengan banyak rumah sakit yang rusak atau tidak lagi berfungsi, tenaga medis yang kelelahan, serta kurangnya pasokan obat-obatan dasar dan peralatan medis vital. WHO memperingatkan bahwa tanpa intervensi global yang lebih cepat dan masif, krisis ini dapat menjelma menjadi bencana kesehatan terbesar di kawasan Timur Tengah dalam dekade terakhir.





















