Riau Baru Produksi 25% Beras, Masih Andalkan Pasokan Luar
Produksi beras Riau baru capai 25% kebutuhan. Pemprov dorong petani lokal tingkatkan produksi demi wujudkan kemandirian dan ketahanan pangan daerah.
LINTASTIMURMEDIA.COM – PEKANBARU – Tingkat produksi beras lokal di Provinsi Riau saat ini baru mampu memenuhi sekitar 25 persen dari total kebutuhan konsumsi masyarakat. Sisanya, pasokan beras masih bergantung pada distribusi dari provinsi tetangga dan pasokan nasional.
Hal ini diungkapkan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau, M. Job Kurniawan, dalam kegiatan penyaluran bantuan beras di Gudang Perum Bulog Jadirejo, Pekanbaru, Kamis (17/7/2025). Ia menekankan pentingnya peningkatan produksi beras lokal Riau sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian pangan dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Produksi beras Riau saat ini baru mencukupi sekitar 20 hingga 25 persen dari kebutuhan konsumsi masyarakat. Kita masih sangat bergantung pada provinsi tetangga dan pasokan dari pusat. Termasuk dalam hal penyaluran bantuan beras kepada masyarakat di seluruh kabupaten dan kota di Riau, sebagian besar masih berasal dari luar daerah. Mudah-mudahan pada tahun-tahun mendatang kita bisa mencapai 50 persen produksi sendiri,” ujarnya.
Job menekankan bahwa peningkatan produksi beras lokal membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah daerah, OPD terkait, dan seluruh pemangku kepentingan sektor pertanian. Dukungan terhadap petani lokal, baik dalam bentuk bantuan alat, akses pupuk, pelatihan, maupun infrastruktur pertanian, sangat dibutuhkan untuk mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas beras yang dihasilkan di Provinsi Riau.
“Kalau petani lokal kita didorong dan dibantu secara berkelanjutan, tentu produksi beras lokal akan meningkat dan ketersediaan pangan untuk masyarakat Riau juga akan lebih terjamin. Ini bagian dari strategi jangka panjang membangun ketahanan pangan berbasis potensi daerah,” tegasnya.
Pj Sekdaprov Riau juga menggarisbawahi bahwa negara yang merdeka sejatinya adalah negara yang mandiri. Dan kemandirian yang paling mendasar serta strategis untuk dicapai adalah kemandirian dalam hal pangan, terutama beras sebagai kebutuhan pokok mayoritas masyarakat.
Ia pun menyadari bahwa mewujudkan ketahanan pangan di tengah situasi saat ini bukan perkara mudah. Sejumlah tantangan besar seperti perubahan iklim, alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri atau perumahan, serta dinamika sosial ekonomi masyarakat, menjadi penghambat serius bagi capaian target produksi beras dalam negeri.
“Kita menyadari tantangan dalam menciptakan ketahanan pangan sangatlah kompleks. Perubahan iklim yang ekstrem, konversi lahan pertanian, hingga persoalan distribusi dan daya beli masyarakat membuat pemerintah harus terus berinovasi. Strategi menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, dan peningkatan kualitas beras lokal harus dijalankan secara konsisten dan terintegrasi,” ungkapnya.
Job menambahkan, penyaluran bantuan beras yang dilakukan pemerintah saat ini hanya merupakan solusi sementara atau jangka pendek untuk menjaga stabilitas konsumsi. Dalam jangka panjang, solusi terbaik tetap terletak pada peningkatan kapasitas produksi petani lokal dan pembenahan sistem distribusi beras lokal agar lebih efisien dan berdaya saing.
“Kita tetap harus memadukan bantuan jangka pendek dengan strategi pembangunan pangan jangka panjang agar hasilnya optimal. Ketahanan pangan harus dibangun dari akar, yaitu petani kita sendiri,” tutupnya.
Editor: Thab411
Wartawan: Panca Sitepu






















