MQK Nasional & Internasional 2025 Dibuka, 30 Santri Riau Ikut Berlaga
MQK Nasional dan Internasional 2025 resmi dibuka di Pesantren As’adiyah, Wajo, Sulawesi Selatan. Sebanyak 798 santri Indonesia dan 20 peserta dari tujuh negara ASEAN berpartisipasi. Kakanwil Kemenag Riau, H. Muliardi, bangga 30 santri Riau ikut berlaga, membawa pesan Islam damai, ramah, dan peduli lingkungan.
LINTASTIMURMEDIA.COM – PEKANBARU – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Riau, H. Muliardi, menyampaikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional 2025 yang untuk pertama kalinya dirangkaikan dengan MQK Internasional 2025.
Menurut Muliardi, ajang bergengsi tersebut bukan sekadar lomba membaca dan memahami kitab kuning, melainkan wadah penting dalam menghidupkan tradisi keilmuan pesantren, memperkuat peradaban Islam, serta meneguhkan nilai perdamaian dan kelestarian lingkungan.
“Sebanyak 30 santri asal Riau ikut berpartisipasi dalam MQK kali ini. Kehadiran mereka menjadi kebanggaan sekaligus harapan agar generasi muda pesantren mampu tampil percaya diri di kancah nasional maupun internasional. Santri Riau diharapkan mampu membawa pesan Islam yang damai, ramah, dan penuh solusi bagi tantangan zaman,” ungkap H. Muliardi dalam sambutannya pada pembukaan MQK Nasional dan Internasional di Pesantren As’adiyah, Wajo, Sulawesi Selatan, Kamis (2/10/2025).
798 Santri Indonesia dan 20 Peserta ASEAN Meriahkan MQK 2025
Berdasarkan data panitia, MQK Internasional 2025 diikuti oleh 798 santri semifinalis dari seluruh Indonesia serta 20 peserta dari tujuh negara ASEAN. Sementara itu, delegasi dari Thailand dan Filipina hadir sebagai observer, memperkuat citra MQK sebagai ajang diplomasi budaya lintas negara.
Selain kompetisi utama, panitia juga menyajikan berbagai kegiatan pendukung yang memperkaya wawasan para santri, antara lain: Expo Kemandirian Pesantren, Pramuka Santri, Halaqah Internasional, Gerakan Ekoteologi, hingga Night Inspiration bersama tokoh nasional dan seniman muda.
Menteri Agama Tekankan Diplomasi Budaya Pesantren
Acara akbar ini resmi dibuka oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A. Dalam pidatonya, Menag menegaskan bahwa MQK bukan hanya ajang perlombaan membaca kitab kuning, tetapi juga ruang silaturahmi ulama, santri, dan akademisi lintas negara.
“MQK adalah diplomasi budaya pesantren yang meneguhkan Islam rahmatan lil-‘alamin. Tema besar kita adalah merawat lingkungan dan menebar perdamaian. Perubahan iklim dan konflik global adalah tantangan nyata yang harus kita jawab. Jika perang merenggut sekitar 67 ribu jiwa per tahun, maka perubahan iklim memakan hingga empat juta korban setiap tahun. Di sinilah peran agama hadir sebagai solusi moral dan spiritual,” ujar Menag.
Dorongan Ekoteologi: Sinergi Manusia, Alam, dan Tuhan
Lebih jauh, Menag mendorong seluruh peserta MQK 2025 untuk menggali khazanah turats (kitab klasik) yang relevan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Kini saatnya Kementerian Agama mensponsori gagasan ekoteologi, yakni sinergi antara manusia, alam, dan Tuhan. Pesantren harus berada di garda depan, menjadi pusat peradaban yang menanamkan kesadaran ekologis kepada generasi muda,” tegasnya.
Harapan untuk Riau dan Indonesia
Partisipasi 30 santri Riau dalam MQK 2025 menjadi momentum penting dalam mendorong pesantren di Bumi Lancang Kuning agar semakin eksis di level nasional dan global. Hal ini juga memperkuat citra Indonesia sebagai pusat kajian Islam moderat yang menjunjung tinggi nilai toleransi, perdamaian, serta kepedulian terhadap krisis iklim global.
Dengan menghadirkan ribuan santri dari dalam dan luar negeri, MQK Nasional dan Internasional 2025 diharapkan mampu melahirkan generasi muda pesantren yang tidak hanya ahli dalam literatur keislaman klasik, tetapi juga responsif terhadap isu-isu kontemporer yang dihadapi umat manusia.





















